Ramalan Arti Kedutan Kelopak Mata, Lengan Tangan, Alis, Dagu, Bibir, baik di bagian Bawah, Atas, Kanan, dan Kiri Menurut Primbon.

Minggu, 30 April 2017

Mitos Rumah Tusuk Sate menurut Fengshui, Adat Jawa, dan Islam

Rumah Tusuk Sate - Ada banyak mitos yang berkembang dalam kebudayaan masyarakat Jawa. Berbagai pantangan dan pamali mewarnai seluk beluk kehidupan mereka dan dijalankan sebagai petuah leluhur untuk mencapai kehidupan duniawi yang lebih baik. Salah satu mitos tersebut misalnya terdapat dalam dunia arsitektur, dengan dikenalnya istilah rumah tusuk sate. Apakah rumah tusuk sate itu? Bagaimana posisi rumah tusuk sate dan mitosnya menurut adat Jawa, Fengshui China dan dalam pemaparan Islam? Seperti apa cara menyiasati dan menangkal keburukan dari posisi rumah tusuk sate?

Posisi Rumah Tusuk Sate

Secara sederhana, rumah tusuk sate adalah rumah yang posisinya terletak di totokan jalur pertigaan sebuah jalanan. Keberadaan rumah ini dapat dilihat seperti memotong salah satu jalur pertigaan sehingga nampak seperti jalan buntu. Dalam dunia properti, rumah dengan posisi semacam ini biasanya akan sulit dijual. Kepercayaan masyarakat terkait klenik dan mitos seputar posisi rumah tusuk sate yang dianggap bisa membawa kesialan membuatnya menjadi jarang diminati. Secara sederhana, posisi rumah tusuk sate dapat Anda lihat pada gambar ilustrasi berikut ini!

Mitos Rumah Tusuk Sate menurut Adat Jawa

Rumah Tusuk Sate menurut Adat Jawa

Dalam kepercayaan adat masyarakat Jawa, rumah dengan posisi tusuk sate memang dianggap bisa membawa kesialan bagi setiap orang yang menghuninya. Selain dipercaya sebagai tempat terakumulasinya energi negatif di suatu wilayah pemukiman, rumah tusuk sate juga diyakini sebagai tempat jin, demit, dan segala mahluk jahat lainnya berkumpul. Bukan hanya isapan jempol belaka, anggapan ini memang sering kali terbukti dengan adanya kejadian aneh yang dialami para pemilik rumah tusuk sate.

Salah satu yang membuktikan mitos rumah tusuk sate adalah paman saya sendiri. Rumah beliau memang berada persis di ujung jalan sebuah pertigaan. Setelah kepindahannya 8 tahun yang lalu ke rumah itu, paman saya menjadi sering sakit-sakitan. Kendati demikian, penyakit yang dideritanya tidak pernah bisa terdeteksi oleh ilmu medis. Sebagian percaya jika penyakit paman saya itu adalah guna-guna, sebagian lain meyakini bahwa penyakit tersebut timbul dari kesialan posisi rumah tusuk sate. Namun, sejak 2 tahun yang lalu, paman saya sudah pindah rumah dan kenyataannya penyakit beliau berangsur-angsur membaik.

Mitos rumah tusuk sate juga telah dibuktikan oleh pengalaman saudara dari tetangga saya. Saya tahu cerita itu saat mengobrol membahas posisi rumah tusuk sate paman saya dengan segala cerita mistis dibaliknya. Tetangga saya berkisah bahwa saudaranya di Jambi juga memiliki rumah dengan posisi tusuk sate. Ia pun terus mengalami sakit-sakitan selama beberapa tahun setelah mendiami rumah tersebut hingga akhirnya meninggal dunia 3 tahun yang lalu.

Selain kedua kisah kesialan tersebut, beredar juga banyak kisah lainnya yang membahas tentang efek buruk mendiami rumah dengan posisi tusuk sate, misalnya rumah tangga jadi berantakan, salah satu anggota keluarga mengalami stress dan gila, sampai kisah pengalaman kemunculan mahluk halus di rumah tusuk sate.

Banyaknya cerita dan pengalaman kesialan mendiami rumah tusuk sate memang sedikit banyak mempengaruhi betapa mitos ini menjadi sangat dipercaya oleh masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang bersuku Jawa. [Baca Juga : Primbon Haid]

Rumah Tusuk Sate menurut Fengshui

Dari pandangan ilmu fengshui, rumah dengan posisi tusuk sate juga dianggap memiliki posisi yang buruk bila digunakan sebagai rumah tinggal. Energi negatif akan berkumpul pada rumah dengan posisi ini. Selain itu, ditinjau dari aliran udara yang terlalu kencang, bisingnya suara kendaraan, serta sorot lampu kendaraan yang mengenai jendela rumah, juga dianggap mempengaruhi ketidaknyamanan para penghuni rumah ini. Percaya atau tidak, yang jelas mitos rumah tusuk sate menurut fengshui memang tampak lebih logis dibandingkan dengan apa yang dijelaskan dalam adat Jawa.

Rumah Tusuk Sate dalam Islam

Kendati menurut adat Jawa dan Fengshui, rumah tusuk sate dianggap dapat membawa sial dan keburukan, namun dalam pandangan Islam hal ini justru tidak dibenarkan. Dalam islam, mempercayai bahwa kesialan bisa diperoleh karena pengaruh posisi rumah dianggap merupakan salah satu bentuk thiyyarah. Thiyyarah adalah mempercayai bahwa ia akan mengalami kesialan karena melihat, mendengar, atau mengalami sesuatu.

“Thiyyarah adalah kesyirikan, thiyyarah adalah kesyirikan, thiyyarah adalah kesyirikan.” (HR Tirmidzi)

Sebagaimana tercantum dalam hadist yang diriwayatkan Tirmidzi, thiyyarah adalah salah satu bentuk kesyirikan. Jika seseorang telah meyakini thiyyarah maka sama dengan baginya telah mengetuk pintu kesyirikan dan masuk ke dalamnya. Dengan kata lain, ia telah melepaskan diri dari ketawakalan kepada Alloh karena memiliki ketakutan dan ketergantungan melainkan hanya kepada Alloh semata. Oleh karena itu, mitos rumah tusuk sate dalam Islam sangat haram dan tidak boleh diyakini dan dipercayai.

Menyiasati dan Menangkal Mitos Rumah Tusuk Sate

Terlepas dari apakah Anda hendak percaya atau mengabaikan mitos seputar rumah tusuk sate yang dijelaskan dalam adat Jawa dan fengshui, kami tetaplah menyarankan Anda untuk menghindari membangun rumah tinggal di tanah yang berposisi tusuk sate. Pasalnya, bagaimana pun, rumah dengan posisi yang letaknya di ujung jalan memang akan terasa tidak nyaman, bising, mudah berdebu, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, bila karena keadaan atau terpaksa membangun rumah di posisi tanah tusuk sate, maka kami menganjurkan Anda untuk menyiasati segala dampak buruk posisi tersebut dan sekaligus menangkal segala mitos sial yang mungkin saja bisa terjadi. Beberapa cara menyiasati posisi rumah tusuk sate yang kami sarankan di antaranya.

  1. Dirikanlah sebuah toko atau warung di depan rumah karena selain dapat menangkal efek energi negatif yang datang, menurut adat Jawa, posisi rumah tusuk sate justru akan sangat menguntungkan bagi usaha dagang.
  2. Buatlah pagar pembatas di bagian depan rumah untuk menolak energi negatif seperti angin, debu, kotoran lainnya, dan niat jahat maling.
  3. Tanamlah berbagai pohon rindang di depan rumah. Pohon rindang akan membuat energi negatif terserap ke dalam pohon sebelum mencapai rumah Anda. ia juga akan sangat membantu menciptakan pencahayaan yang baik di rumah Anda.
  4. Tanamlah pohon bambu kuning dan letakan cermin di depan rumah sebagai penangkal kesialan. Saran ini berasal dari budaya adat Jawa.
  5. Buat pintu utama supaya tidak menghadap langsung ke jalan. Saran ini berasal dari kajian ilmu Fengshui.


Nah, demikianlah pembahasan yang dapat kami sampaikan tentang mitos posisi rumah tusuk sate dalam pemahaman adat Jawa, fengshui, dan kajian Islam. artikel ini hanya merupakan sebuah sumbang saran dan bila ada kesalahan di dalamnya, kami mohon maaf. Percaya atau tidak semuanya diserahkan kembali kepada Anda yang hendak menjalaninya. Semoga bermanfaat!

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Terkait : Mitos Rumah Tusuk Sate menurut Fengshui, Adat Jawa, dan Islam